25 September 2008

Kajian Sistem Silvikultur dan Pertumbuhan Hutan Bekas Tebangan pada Berbagai Tipe Hutan di Sumatera Utara

Oleh :
Aswandi dan Rusli MS Harahap

ABSTRAK
Dasar ilmiah berbagai sistem silvikultur seperti TPI, TPTI, TPTJ, TJTI belum dikuasai secara tepat, sehingga penerapannya secara teknis menghadapi banyak masalah. Hal ini pelu dikaji mengingat kompleksnya permasalahan kehutanan di Indonesia dan telah masuknya pengelolaan hutan pada siklus tebangan kedua yang menyebabkan pengelolaan hutan mengarah pada pengelolaan hutan bekas tebangan. Tindakan pembinaan tegakan hingga umur 8 tahun setelah penebangan pada beberapa IUPHHK di Sumbagut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap prediksi riap diameter dan siklus tebang 35 tahun pada siklus tebangan kedua belum memberikan hasil lestari. Hal ini didukung oleh riap diameter yang lebih kecil dari satu centimeter per tahun. Oleh karena itu memperpanjang siklus tebang atau menurunkan limit diameter merupakan alternatif untuk menjaga kelestarian hasil. Untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan pembinaan tegakan dalam TPTI, dapat dilakukan alternatif penyederhanaan tahapan pembinaan tegakan dilakukan dengan mengintegrasikan kegiatan perapihan, pembebasan dengan Inventarisasi Tegakan Tinggal pada satu tahun setelah penebangan sehingga kegiatan berikutnya dilakukan lebih awal. Penanaman pengkayaan dapat dilakukan pada tapak-tapak terbuka dengan jenis-jenis yang tepat dan sesuai untuk masing-masing tipe hutan segera setelah penebangan.

Kata kunci : sistem silvikultrut TPTI, pembinaan tegakan, riap, hutan bekas tebangan

Makalah Penunjang pada Ekspose Hasil-hasil Penelitian: Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Hutan. Padang, 20 September 2006

Full text : Hubungi andiasw@gmail.com

Tidak ada komentar: